Selasa, 20 September 2016

Dokumentasi Dalam Wawancara di Mina Taruna Turi Sleman


Foto ketika perkenalan dan pendekatan kepada kelompok Tani Mina Taruna


Foto penyuluhan awal kepada pengurus kelompok Tani Mina Taruan


Foto pembagian alat peraga saat penyuluhan pada para anggota kelompok


Penyuluhan kepada anggota kelompok Tani Mina Taruna


Foto ketika tanya jawab


Share:

Alat Peraga Dalam Penyuluhan Komunikasi Pertanian







Ditulis oleh :
1. Intan Dewi Setyarini (13859)
2. Indra Wijayanto (13653)
3. Atanasius Aditya (14115)
4. Cathy Angga Wijaya (14377)

Share:

Minggu, 28 Agustus 2016

Budidaya Bandeng Organik

 


Kompos merupakan pupuk yang dibuat dari limbah pertanian maupun kotoran ternak. Limbah tersebut dibusukkan dengan meminta bantuan organisme pengurai (Dekomposer). Setelah berubah wujud dari limbah menjadi pupuk dari hasil kerja mikroorganisme dan makroorganisme maka dapat digunakan sebagai bahan penyubur tanah. Kompos yang diproduksi dari limbah pertanian dan kotoran ternak dapat berfungsi sebagai sumber hara untuk tumbuhnya plankton, lumut dan klekap sebagai makanan alami bagi bandeng di tambak.
Ada dua macam cara membuat kompos, yaitu melalui proses aerob (dengan udara) dan anaerob (tanpa udara). Kedua metode ini menghasilkan kompos yang sama baiknya hanya saja bentuk fisiknya agak sedikit berbeda.
Proses pembuatan kompos aerob sebaiknya dilakukan di tempat terbuka dengan sirkulasi udara yang baik. Karakter dan jenis bahan baku yang cocok untuk pengomposan aerob adalah material organik yang mempunyai perbandingan unsur karbon (C) dan nitrogen (N) kecil (dibawah 30:1), kadar air 40-50% dan pH sekitar 6-8, misalnya hijauan leguminosa, jerami padi , batang pisang dan kotoran unggas. Apabila kekurangan bahan yang megandung karbon, bisa ditambahkan arang sekam padi ke dalam adonan pupuk.
Cara membuat kompos aerob memakan waktu 40-50 hari. Perlu ketelatenan lebih untuk membuat kompos dengan metode ini. Kita harus mengontrol dengan seksama suhu dan kelembaban kompos saat proses pengomposan berlangsung. Secara berkala, tumpukan kompos harus dibalik untuk stabilkan suhu dan kelembabannya.
Berikut ini cara membuat kompos aerob:
§  Siapkan lahan seluas 10 meter persegi untuk tempat pengomposan. Lebih baik apabila tempat pengomposan diberi peneduh untuk menghindari hujan.
§  Buat bak atau kotak persegi empat dari papan kayu dengan lebar 1 meter dan panjang 1,5 meter. Pilih papan kayu yang memiliki lebar 30-40 cm.
§  Siapkan material organik dari sisa-sisa tanaman, bisa juga dicampur dengan kotoran ternak. Cacah bahan organik tersebut hingga menjadi potongan-potongan kecil. Semakin kecil potongan bahan organik semakin baik. Namun jangan sampai terlalu halus, agar aerasi bisa berlangsung sempurna saat pengomposan berlangsung.
§  Masukan bahan organik yang sudah dicacah ke dalam bak kayu, kemudidan padatkan. Isi seluruh bak kayu hingga penuh.
§  Siram bahan baku kompos yang sudah tersusun dalam kotak kayu untuk memberikan kelembaban. Untuk mempercepat proses pengomposan bisa ditambahkan starter mikroorganisme pembusuk ke dalam tumpukan kompos tersebut. Setelah itu, naikkan bak papan ke atas kemudian tambahkan lagi bahan-bahan lain. Lakukan terus hingga ketinggian kompos sekitar 1,5 meter.
§  Setelah 24 jam, suhu tumpukan kompos akan naik hingga 65oC, biarkan keadaan yang panas ini hingga 2-4 hari. Fungsinya untuk membunuh bakteri patogen, jamur dan gulma. Perlu diperhatikan, proses pembiakan jangan sampai lebih dari 4 hari. Karena berpotensi membunuh mikroorganisme pengurai kompos. Apabila mikroorganisme dekomposer ikut mati, kompos akan lebih lama matangnya.
§  Setelah hari ke-4, turunkan suhu untuk mencegah kematian mikroorganisme dekomposer. Jaga suhu optimum pengomposan pada kisaran 45-60oC dan kelembaban pada 40-50%. Cara menjaga suhu adalah dengan membolak-balik kompos, sedangkan untuk menjaga kelembaban siram kompos dengan air. Pada kondisi ini penguapan relatif tinggi, untuk mencegahnya kita bisa menutup tumpukan kompos dengan terpal plastik, sekaligus juga melindungi kompos dari siraman air hujan.
§  Cara membalik kompos sebaiknya dilakukan sebagai berikut: angkat bak kayu, lepaskan dari tumpukan kompos. Lalu letakan persis disamping tumpukan kompos. Kemudian pindahkan bagian kompos yang paling atas kedalam bak kayu tersebut sambil diaduk. Lakukan seperti mengisi kompos di tahap awal. Lakukan terus hingga seluruh tumpukan kompos berpindah kesampingnya. Dengan begitu, semua kompos dipastikan sudah terbalik semua. Proses pembalikan sebaiknya dilakukan setiap 3 hari sekali sampai proses pengomposan selesai. Atau balik apabila suhu dan kelembaban melebihi batas yang ditentukan.
§  Apabila suhu sudah stabil dibawah 45oC, warna kompos hitam kecoklatan dan volume menyusut hingga 50% hentikan proses pembalikan. Selanjutnya adalah proses pematangan selama 14 hari.
§  Cepat atau lambatnya berlangsung proses pengomposan tergantung dari keadaan dekomposer dan bahan baku kompos. Pupuk kompos yang telah matang dicirikan dengan warnanya yang hitam kecoklatan, teksturnya gembur, tidak berbau.
§  Untuk memperbaiki penampilan dan agar bisa disimpan lama, sebaiknya kompos diayak dan di kemas dalam karung. Simpan pupuk kompos di tempat kering dan teduh.
Cara membuat kompos dengan metode anaerob biasanya memerlukan inokulan mikroorganisme (starter) untuk mempercepat proses pengomposannya.  Inokulan terdiri dari mikroorganisme pilihan yang bisa menguraikan bahan organik dengan cepat, seperti efektif mikroorganime (EM4). Di pasaran terdapat juga jenis inokulan dari berbagai merek seperti superbio, probio, dll. Apabila tidak tersedia dana yang cukup, kita juga bisa membuat sendiri inokulan efektif mikroorganisme.
Bahan baku yang digunakan sebaiknya material organik yang mempunyai perbandingan C dan N tinggi (lebih dari 30:1). Beberapa diantaranya adalah serbuk gergaji, sekam padi dan kotoran kambing. Waktu yang diperlukan untuk membuat kompos dengan metode anaerob bisa 10-80 hari, tergantung pada efektifitas dekomposer dan bahan baku yang digunakan.  Suhu optimal selama proses pengomposan berkisar 35-45oC dengan tingkat kelembaban 30-40%.
Berikut tahapan cara membuat kompos dengan proses anaerob.Siapkan bahan organik yang akan dikomposkan. Sebaiknya pilih bahan yang lunak terdiri dari limbah tanaman atau hewan. Bahan yang bisa digunakan antara lain, hijauan tanaman, ampas tahu, limbah organik rumah tangga, kotoran kambing,  kecuali kotoran ayam karena bisa menyebabkan muculnya bakteri ecoli . Rajang bahan tersebut hingga halus, semakin halus semakin baik.
§  Siapkan dekomposer (EM4) sebagai starter. Caranya, campurkan 1 cc EM4 dengan  liter air dan 5 sendok teh tetes tebu (molase). Kemudian diamkan selama 24 jam.
§  Ambil terpal plastik sebagai alas, simpan bahan organik yang sudah dirajang halus di atas terpal. Campurkan serbuk gergaji pada bahan tersebut untuk menambah nilai perbandingan C dan N. Kemudian semprotkan larutan EM4 yang telah diencerkan tadi. Aduk sampai merata, jaga kelembaban pada kisaran 30-40%, apabila kurang lembab bisa disemprotkan air.
§  Siapkan tong plastik yang kedap udara. Masukan bahan organik yang sudah dicampur tadi. Kemudian tutup rapat-rapat dan diamkan hingga 3-4 hari untuk menjalani proses fermentasi. Suhu pengomposan pada saat fermentasi akan berkisar 35-45oC.
§  Setelah empat hari cek kematangan kompos. Pupuk kompos yang matang dicirikan dengan baunya yang harum seperti bau tape.
Pupuk kompos yang sudah jadi bisa langsung digunakan di tambak pada saat persiapan sebagai pupuk dasar maupun sebagai pupuk susulan. Sebagai pupuk dasar dapat diguanakan 1-2 ton perhektare, selanjutnya pupuk susulan sebanyak 500-750 kg perhektare.
  Cara pemupukan dasar tambak menggunakan pupuk organik kompos yaitu disebarkan merata pada pelataran pada saat tambak kering. Lalu masukkan air hingga ketinggian 10-15 cm diatas pelataran sampai tanah tambak menjadi macak-macak. Biarkan 2-3 hari atau sampai tanah pelataran kering kembali, tetapi jangan sampai retak. Masukkan air lagi sampai ketinggian 30 cm di atas pelataran, biarkan sekitar 7-10 hari sampai tumbuh lumut dan klekap. Jika lumut dan klekap sebagai makanan alami bandeng tumbuh padat, lakukan penambahan volume air sampai ketinggian 40-50 cm lalu ditebar gelondong bandeng sebanyak 3.500 ekor perhektare.
Selama masa pemeliharaan harus selalu dipantau ketersediaan makanan alami. Jika lumut dan tanaman air lainnya mulai menipis maka air tambak disurutkan hingga ketinggian 20 cm. Biarkan ikan peliharaan mengamankan diri di parit keliling, lalu dilakukan pemupukan susulan ke seluruh pelataran tambak, biarkan pelataran tambak sampai kering, lalu masukkan air bertahap sampai tumbuh lumut dan klekap. Jika makanan alami padat kembali, lakukan penambahan volume air agar bandeng yang “berpuasa” di parit keliling (caren) dapat menyantap makanan yang ada di pelataran tambak. Pertahankan ketinggian air di pelataran tidak lebih dari 60 cm agar sinar matahari tetap menembus dasar tambak sehingga pertumbuhan lumut dan klekap terus menerus. Setelah kurang lebih 60 hari masa pemeliharaan di petak pembesaran bandeng sudah dipanen sebanyak 1.000 kg dengan ukuran size 3 ekor per kilogram.
Inovasi budidaya bandeng ini secara ekonomi menguntungkan, karena tidak perlu membeli pakan tambahan, pupuk kimia dan singkat masa pembesarannya. Besarnya biaya operasional persiklus dalam 1 hektar tambak hanya sekitar  Rp.2.125.000 dengan rincian biaya gelondongan bandeng 3.500 ekor = Rp.1.225.000, bahan, alat dan operasional   pembuatan pupuk bokasi 2.000 kg =Rp.750.000, saponin untuk pemberantasan hama 50 kg =Rp.150.000. Sedangkan harga bandeng size 3 ekor per kilogram Rp.11.500 sehingga hasil penjualan sebanyak Rp.11.500.000.Dengan demikian hasil kotor yang diperoleh setelah budidaya bandeng selama kurang lebih 60 hari sebesar Rp.9.375.000

Sumber : http://pusluh.kkp.go.id/mfce/berita-budidaya-bandeng-organik.html

Oleh : Indra WIjayanto / 13653 / kelompok 4 gol 3.2
Share:

Sabtu, 27 Agustus 2016

Berhidroponik dengan Barang Bekas



Berhidroponik dengan Barang Bekas

 sumber gambar : cybex.pertanian.go.id

Import cabai dan bawang merah sering menjadi isu krusial dan hangat di Indonesia. Sungguh sebuah kelucuan nyata, ketika negeri yang konon katanya "Gemah Ripah Loh Jinawi", kaya sumber daya alam, tanahnya subur yang bahkan hanya dengan melempar batang kayu saja akan tumbuh menjadi tanaman, belum lagi SDM di sektor pertanian yang sangat tersedia secara kualitas dan kuantitas, tetapi harus mengimport cabai dan bawang merah.

Sebuah kekhawatiran juga seiring dengan bertambahnya penduduk maka tentu harus dibarengi dengan pemenuhan bahan pangan pula. Pada sisi lain bertambahnya penduduk juga berdampak pada berkurangannya lahan untuk pertanian, yang korelasinya juga dapat menurunkan produksi pangan. Belum lagi ketika berbicara perubahan iklim global yang juga mengancam ketersediaan pangan global.

Hidroponik, dalam perjalanan dan perkembangannya cepat atau lambat terbukti mampu membantu dalam ketersediaan pangan, khusunya jenis hortikultura. Di beberapa negara, justru dengan hidroponik mampu mencukupi kebutuhan akan pangan khususnya berupa sayur mayur dan buah-buahan. Di beberapa negara dengan teknik hidroponik, mampu memodifikasi keterbatasan lahan pertanian serta keadaan cuaca, sehingga mampu memenuhi kebutuhan pangan sendiri bahkan mengekspor produk-produk hortikultura khususnya sayuran ke luar negerinya.

Permasalahan yang selama ini menghambat pengembangan hidroponik, yaitu kesan mahal, sulit dan rumit yang telah terlanjur melekat pada teknik hidroponik. Hidroponik seolah-olah hanya dimonopoli perusahaan besar ataupun orang berduit saja. Selain itu juga kesan ilmu hidroponik seolah-olah sengaja hanya diperuntukan pada kalangan tertentu ataupun masih terkesan dirahasiakan, terutama dalam hal ilmu pembuatan larutan nutriennya. Sungguhpun demikian, ternyata semua hal itu tidaklah seluruhnya benar.

Hidroponik sangatlah mudah dan bisa dengan biaya ringan. Hidroponik bisa dilakukan dalam skala kecil, bahkan dengan barang bekaspun bias dilaksanakan. Kuncinya kemauan dan telaten/sabar. Larutan nutrient hidroponik sudah banyak dijual dipasaran, kalaupun harus membuat sendiri sangat mudah membuatnya, bisa dilakukan dengan membuat sendiri dari dari bahan pupuk pertanian yang bisa dibeli di kios/toko pertanian.

Melalui kegiatan bertanam secara hidroponik, stereform serta barang-barang bekas kemasan akan dapat dimanfaatkan secara baik. Dalam kehidupan sehari-hari, stereform sudah menjadi barang pokok dalam kegiatan pengemasan dan packing. Sebagian besar makanan cepat saji dan buah import dikemas dengan stereform. Pengemasan barang elektronik dan perkakas rumah tangga dari produsen pembuatnya juga tidak terlepas dari stereform. Padahal bahan-bahan dari stereform ini pula yang menjadi salah satu suber pencemaran lingkungan, karena stereform adalah salah satu jenis bahan yang sulit untuk di daur ulang oleh alam. Kemasan air mineral (gelas/botol), plastik bekas belanja, kemasan ditergen/pembersih lantai, kemasan es krim, kaleng cat tembok dan lain sebagainya juga merupakan limbah yang selama ini pemanfaatanya masih terbatas. Akan tetapi, dengan sedikit sentuhan seni/artistic, barang-barang limbah tersebut akan terlihat anggun dan cantik bersama tanaman hidroponik menghiasi halaman rumah ataupun ruangan kerja.

Pada sisi lain, tidak bisa dielak saat ini pencemaran udara serta terik sinar matahari semakin terasa mengurangi kenyamanan untuk beraktifitas dan bersantai baik di rumah maupun di tempat kerja. Dan hal ini sangat terasa terutama bagi kita yang tinggal ataupun beraktifitas di perkotaan. Hidroponik dengan nuansa kehijauan tanamannya serta hembusan Oksigen (O2) yang dihasilkan akan membantu mengurangi pencemaran udara dan terik sinar matahari.

Bercocok tanam secara hidroponik dapat memberikan banyak keuntungan. Hal tersebut antara lain tanaman lebih terjamin kebebasannya dari hama dan penyakit, produksi tanaman dapat lebih tinggi, tanaman dapat tumbuh lebih cepat dan pemakaian pupuk lebih efisien, tanaman dapat memberikan hasil secara terus menerus sesuai jadual tanam, kegiatan bertanam dapat lebih mudah dikerjakan tanpa membutuhkan tenaga kasar, tanaman dapat tumbuh pada tempat yang semestinya tidak cocok, tidak ada resiko sebagai akibat ketergantungan terhadap kondisi alam setempat, karena keadaan lingkungan mikro (setempat) dapat dimodifikasikan dengan teknik tertentu. diantaranya dengan memakai screen/green house, dapat dilakukan pada tempat-tempat yang luasnya terbatas, misalnya di halaman/pekarangan sekitar rumah, teras, ruang tamu, dan ruang kerja. Keuntungan bertanam secara hidroponik akan semakin dirasa, terutama sekali pada daerah perkotaan yang padat penduduk sehingga lahan pertanian sangat terbatas. Juga pada daerah yang lahannya kurang sesuai untuk kegiatan pertanian, karena gersang ataupun cuaca/iklim yang ada kurang mendukung. Selain itu, kegiatan hidroponik akan memberikan keuntungan lebih yaitu menghijaukan lingkungan/ruangan pada tempat-tempat yang sebenarnya tidak memungkingkan untuk bertanam menggunakan tanah.

Sistem penanaman secara hidroponik yang banyak digunakan saat ini adalah : 1. Static solution culture (kultur air statis) yang lebih dikenal dengan istilah sistem sumbu (wick system) ataupun teknik apung merupakan jenis paling sederhana dari semua jenis hidroponik, dimana tanaman diletakan pada wadah berisi larutan nutrisi seperti gelas, ember, toples atau bak air. Cairan larutan biasanya diberi blekutukan dengan mesin gelembung udara (aerator) sehingga terjadi sirkulasi dan akarpun cukup mendapat asupan oksigen, 2. Aeroponics merupakan sistem yang akarnya secara berkala dibasahi dengan butiran-butiran larutan nutrisi yang halus (seperti kabut). Metode ini tidak memerlukan media dan memerlukan tanaman yang tumbuh dengan akar yang menggantung di udara atau pertumbuhan ruang yang luas yang secara berkala, akar dibasahi dengan kabut halus dari larutan nutisi. Aerasi secara sempurna merupakan kelebihan utama dari sistem aeroponics. Dilihat dari media tanam hidroponik yang berfungsi sebagai buffer dan penyangga tanaman diantaranya adalah : arang sekam; spons; pasir; kerikil dan serbuk kayu. Beberapa keuntungan dari teknik budidaya secara hidroponik adalah : tidak membutuhkan tanah; air akan terus bersirkulasi di dalam sistem; mudah dalam pengendalian nutrisi sehingga pemberian nutrisi bisa lebih efisien; tidak menghasilkan polusi nutrisi ke lingkungan; memberikan hasil yang lebih banyak; mudah dalam memanen hasil; steril dan bersih; bebas dari tumbuhan pengganggu/gulma; media tanam dapat dilakukan selama bertahun-tahun dan tanaman dapat tumbuh lebih cepat.

Sumber Pustaka:
Andiyanta. 2015. Berhidroponik dengan Barang Bekas. http://cybex.pertanian.go.id/materilokalita/detail/11536/berhidroponik-dengan-barang-bekas diakses pada 27 Agustus 2016.

Disusun Oleh :
Atanasius Aditya Hendarto
15/379661/PN/14115
Praktikum DPKP A.3.2 Kelompok 4



Share:

Jumat, 26 Agustus 2016

Pengendalian Penyakit Karat pada Kacang Tanah

    
 
Sumber : www.google.com
      
        Kacang tanah mempunyai arti ekonomi penting karena merupakan sumber lemak dan protein nabati sebagai menu makanan sehari-hari masyarakat Indonesia. Manfaat lainnya dari kacang tanah juga diambil minyaknya untuk keperluan, misalnya minyak goreng, pelumas , dan kosmetik. Ia juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Dalam budidaya kacang tanah, selalu ada hambatan pada produksi kacang tanah, yaitu penyakit. Salah satu penyakit yang ada pada budidaya kacang tanah, yakni penyakit karat.
   Penyakit karat merupakan penyakit yang menyerang pada kacang tanah, selain penyakit bercak daun. Penyakit karat disebabkan oleh cendawan Puccinia arachidis. Pada umumnya, gejalanya yang ditimbulkan oleh kacang tanah dengan tanda pada permukaan daun bawah berupa pustul berwarna coklat seperti karat besi. Jika pustul pecah terdapat uredospora yang menyerupai tepung. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit ini, yaitu suhu, kelembapan, kecepatan angin, dan curah hujan. Siklus hidup kelompok cendawan penyebab penyakit karat dapat berlangsung dua macam, yaitu aseksual dan seksual. Secara aseksual uredospora akan berkecambah dan membentuk uredspora lagi, sedangkan secara seksual yaitu uredium berubah menjadi telium kemudian membentuk basidium., dan basidium membentuk spermogonium (gamet +) dan hifa resesif ( gamet -) dan persilangan iini terbentuk aesium. Aesium akan berubah menjadi uredium.
        Pengendalian penyakit karat pada kacang tanah yang dapat diterapkan antara lain penanaman varitas tahan, penggunaan antagonis cendawan atau bakteri yang dapat bertindak sebagai agens pengendali P. Arachidis , aplikasi fungisida nabati. Selain itu, untuk mengantisipasi terdapatnya gulma yang menjadi inang lain perlu dilakukan tindakan sanitasi lingkungan.
    Penanaman varitas tahan. Pengendalian yang sudah diterapkan yakni dengan penggunaan varitas tahan. Beberapa varitas unggul kacang tanah tahan penyakit karat adalah Takar-1 dan Takar-2. Tahun 2009 telah dilakukan pengujian ketahanan terhadap penyakit tersebut. Hasil pengujian 120 genotipe koleksi plasmanuftah kacang tanah di Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan umbi-umbian , didapatkan satu genotipe yang tahan, yaitu Mlg A-0099, tidak ditemukan genotipe agak tahan, 59 genotipe agak rentan, dan genotipe rentan. Hal ini menunjukkan bahwa tidak mudah memperoleh ketahanan tanaman terhadap penyakit karat.
        Sanitasi dan Rotasi Tanaman. Penyebaran spora P. Arachidis dapat melalui angin dan air. Hal ini agak menyulitkan dalam pengendalian. Sanitasi lingkungan di sekitar pertanaman kacang tanah diperlukan untuk mengurangi kelembapan. Selain itu, untuk mengantisipasi tumbuhnya gulma sebagai inang alternatif. Rotasi tanaman untuk pengendalian penyakit karat dimaksudkan untuk mengurangi inokulum awal. Salah satu hal yang dianjurkan adalah menanam tanaman budidaya bukan dari leguminosae. Pergiliran tanaman akan memutus siklus hidup P. Arachidis, namun jika disekitarnya terdapat tanaman kacang tanah maka infeksi P. Arachidis terhadap kacang tanah yang dibudidayakan tidak dapat dihindari.
     Pengendalian dengan Agens hayati. Pengendalian dengan cara ini dilakukan dengan mengaplikasikan miroorganisme antagonis. Cara ini dapat meminimalkan jumlah inokulum awal dan mengurangi perkembangan penyakit. Keunggulan pengendalian dengan cara ini tidak mencemari lingkungan dan dengan satu kali aplikasi efek residunya dapat bertahan lama sampai beberapa kali musim tanam.


Sumber : Sumardi
Badan Penelitian Pertanian, 2014 
dikutip pada hari Jumat, 26 Agustus 2016 jam 09.30
Dari : www.cybex.pertanian.go.id

Oleh :
Cathy Angga Wijaya (15/383546/PN/14377)
Kelompok 4. Gol . A3.2



Share:

FUNGSI DAN PERANAN HUTAN MANGROVE

Gambar hutan mangrove "Tanah Bumbu" (sumber  gambar: www.pusluh.kkp.go.id)

Hutan mangrove (bakau) adalah tipe hutan yang khas terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut.  Hutan mangrove ini sering juga disebut dengan hutan pantai, hutan pasang surut, hutan payau atau hutan bakau.  Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur dan ditemukan pada pantai-pantai teluk yang dangkal, estuaria, delta dan daerah pantai terlindung (Bengen, 1999).
Ada 4 (empat) cara untuk mengenal jenis mangrove antara lain bertanya kepada ahlinya, mencocokkan dengan herbarium yang telah diidentifikasi, membandingkan dengan gambar dan deskripsi yang terdapat pada literature dan menggunakan kunci identifikasi.
Menurut Noor et al (1999) di dalam Rachmad (2011), mangrove memiliki berbagai macam manfaat bagi kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya.  Bagi masyarakat pesisir, pemanfaatan mangrove untuk berbagai tujuan telah dilakukan sejak lama.  Akhir-akhir ini, peranan mangrove bagi lingkungan sekitarnya dirasakan sangat besar setelah berbagai dampak merugikan dirasakan di berbagai tempat akibat hilangnya mangrove. Secara umum, fungsi dan peranan hutan mangrove terhadap manusia dan lingkungannya dapat diuraikan sebagai berikut :
  • Melindungi pantai dari erosi dan abrasi
  • Melindungi pemukiman penduduk dari terpaan  badai dan angin dari laut
  • Mencegah intrusi air laut
  • Tempat hidup dan berkembang biak berbagai satwa liar seperti ikan, udang, kepiting, burung, monyet, dsb.
  • Memiliki potensi edukasi dan wisata
  • Mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan co2 dari udara, dll
Banyak bencana dan kerugian yang terjadi akibat rusak/hilangnya hutan bakau, seperti: abrasi pantai, intrusi air laut, banjir, hancurnya pemukiman penduduk diterpa badai laut, hilangnya sumber perikanan alami, hilangnya kemampuan dalam meredam emisi gas rumah kaca. Hal tersebut, umumnya disebabkan oleh :
  • Pengambilan/penebangan hutan bakau secara berlebihan
  • Pengalihfungsian hutan mangrove menjadi areal tambak, pemukiman ataupun pertanian dengan tidak memperhatikan asas konservasi dan berkesinambungan
  • Membiarkan wilayah pesisir tandus dan gersang tanpa adanya upaya penghijauan (misal dengan tanaman bakau)
Indonesia memiliki kawasan pesisir sangat luas yang ditumbuhi berbagai jenis tanaman pantai seperti hutan bakau (Indonesia merupakan negara tropis dengan hutan bakau terluas di dunia, sekitar 3,2 juta ha). Namun sangat disayangkan, sejak pertengahan tahun 1980-an, hampir sebagian besar kawasan pesisir di Indonesia telah mengalami kerusakan cukup parah terutama diakibatkan oleh pengalihfungsian hutan pantai menjadi lahan pertambakan dan peruntukan lainnya.
Untuk mengembalikan fungsi, manfaat serta jasa-jasa lingkungan ekosistem hutan bakau dan hutan pantai lainnya, diperlukan upaya-upaya rehabilitasi dan pengelolaan pesisir yang tepat dan benar, salah satunya adalah dengan menerapkan konsep tambak ramah lingkungan atau sering disebut sebagai budidaya tambak yang melestarikan bakau sebagai jalur hijau atau penanaman mangrove di tambak (silvofishery). Adapun manfaat yang akan diperoleh dari sistem ini antara lain sebagai berikut :
          Kontruksi pematang tambak menjadi lebih kuat karena akan terpegang akar-akar bakau;
  • Pejalan kaki akan nyaman berjalan di atas pematang karena dirimbuni tajuk tanaman bakau;
  • Daun bakau dapat digunakan sebagai makanan untuk ternak (khususnya, kambing), dan buahnya dapat dijadikan berbagai macam penganan manusia (seperti selai, kripik dll)
  • Bakau akan mengurangi dampak bencana alam seperti badai dan gelombang air pasang, sehingga kegiatan-kegiatan usaha maupun pemukiman disekitarnya dapat terselamatkan.
  • Keanekaragaman hayati akan meningkat (termasuk bibit ikan alam dan kepiting), yang akan meningkatkan juga pendapatan petani ikan;
  • Mencegah erosi pantai dan intrusi air laut ke darat, sehingga pemukiman dan sumber air tawar dapat terjaga dan dipertahankan;
  • Kualitas air tambak menjadi lebih baik, karena fungsi perakaran  bakau dapat ‘menyaring’ limbah padat dan mikroba yang terdapat pada lantai hutan bakau dan dapat mendekomposisi bahan organik yang berasal dari kegiatan budidaya maupun dari luar tambak;
  • Terciptanya sabuk hijau pesisir (coastal green belt) serta ikut mendukung program mitigasi dan adaptasi perubahan iklim global karena bakau akan mengikat (sequester) CO2 dari atmosfer dan melindungi kawasan pemukiman dari kecenderungan naiknya muka air laut;
Mengingat betapa pentingnya fungsi dan peranan mangrove bagi kehidupan manusia, maka alangkah lebih bijaknya jika jika seyogyanya memelihara, melindungi dan melestarikan hutan mangrove ini, dengan menjaga dan tidak menebangnya. 
Mari kita lestarikan Hutan Mangrove Kita…!!!

Sumber :
Ditulis oleh Eko Prio Raharjo,S.Pi merupakan Penyuluh Perikanan Kab. Tanah bumbu, Kalsel. Dikutip dalam : http://www.pusluh.kkp.go.id/arsip/c/2671/?category_id=2 pada 26 Agustus 2016 pada pukul 18.21 WIB

Oleh :
Intan Dewi Setyarini (14/367523/PN/13859)
Kelompok IV, golongan A.3.2

Share:

BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.